>Pendakian 2M ( Merbabu-Merapi )

>Kamis, 1 April 2010

Merupakan titik awal pengalaman naik gunung bagiku. Sekilas mengenai Gunung Merbabu (3.142 m dpl), merupakan gunung yang tergolong gunung api tua yang terletak bersebelahan dengan Gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung api aktif. Gunung Merbabu mempunyai banyak puncak bayangan (bukan puncak asli).
Trip ini sendiri diberi judul “Pendakian 2M (Merbabu-Merapi)”. Kedengarannya saja sudah Wow!! Bersama teman-teman baru yg tergabung dlm grup FB share traveller, sesuai namanya, kami yg berjumlah 15 orang sharing cost alias patungan biaya perjalanan biar lebih murah. Perkenalan dilakukan dikereta. untungnya, saya bukan satu-satunya newbie.Yeayy !!
Perjalanan dimulai naik kereta ekonomi Bengawan, jurusan Tanah Abang I – Lempuyangan yg ditempuh dlm waktu kurang lebih 12jam. Kondisi kereta sumpek dengan penumpang yang berjejalan karena tidak dapat kursi. Beruntungnya kami memesan tiket H-7 jadi dapat duduk deh.

Jumat, 2 April 2010

Sampai di Lempuyangan pagi hari,bersih-bersih sekenanya di toilet umum stasiun, dilanjutkan jalan kaki ke Malioboro untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Makan soto ayam murmer cukup Rp.5.000, – saja. Lanjut naik busway dari Malioboro, bus jurusan Yogya-Magelang, dan charter mini bus utk sampai di Wekas. Jalur inilah yang menjadi starting point pendakian. Setelah re-packing dan makan siang di basecamp Wekas, kami memulai pendakian dengan berdoa dan cheers ala share traveller. Pendakian diawali dengan ceria.
And the story goes..


Hampir saja saya menyerah dalam 5 menit pertama. Tapi saya berusaha memotivasi diri sendiri untuk bertahan sampai garis akhir. I told myself, “there’s no turning back,v! Don’t give up, step forward.” Saya masih ingat kala itu, kabut sudah mulai turun,mengurangi jarak pandang dan menambah dinginnya cuaca yang membuat saya agak sulit mengatur nafas.

Well, jujur saya ga kuat dingin dan saya memaksa tubuh saya beradaptasi dengan dinginnya udara gunung. Medan Merbabu diakui lumayan berat oleh teman-teman saya yang bisa dibilang punya jam terbang cukup tinggi alias ‘mbah-mbah’ naik gunung. Apalagi untuk newbie seperti saya dan beberapa ‘wanita perkasa’ lainnya. Jalurnya mengikuti jalan setapak, melewati hutan dan menanjak, semakin ke atas semakin licin dan berbatu. Maklum karena habis diguyur hujan sehari sebelumnya, kata tim lain yang berniat turun lewat jalur yang kami lalui, mereka memutuskan untuk kembali turun dan tidak melanjutkan naik ke puncak. Tapi kami tetap bersikukuh melanjutkan perjuangan yang baru saja dimulai. Perjalanan masih teramat panjang dan berat.

Sekitar jam 17.30 wib, kami sampai di pos 2, ada satu tim yang sedang mendirikan kemah. Beristirahat sejenak sambil menunggu teman kami yang masih ketinggalan dibelakang. Saya memang pemula, tapi selalu berada digaris depan adalah taktik yang saya terapkan supaya tetap semangat. Setelah personil lengkap, istirahat dirasa cukup ditambah hasrat narcis terpenuhi, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan berkemah di pos 3. Here we go again…

Senter-senter menerangi pendakian kami senja itu. Medan yang licin dan gelap, menambah berat pendakian. Kami berjalan berkelompok karena keterbatasan senter ditambah lagi ada teman yang maagnya kambuh dan kram kaki. Tidak terhitung lagi berapa kali kami beristirahat. Tapi satu hal yang begitu menggoda, rasanya langit di Jakarta tak pernah secantik malam itu di Merbabu. Bintang-bintang bertaburan indah melebihi ‘ketombe’ dilangit sawarna februari lalu. Pernah liat planetarium? Seperti itulah kira-kira langit merbabu malam itu. Menakjubkan.

Kami lanjutkan perjalanan, dan mulai bertanya-tanya, dimanakah pos 3 berada? Karena setiap pos tidak memiliki tanda khusus, kami hanya dituntun oleh pipa air yang hanya ada sampai pos 2. Setelah berunding karena sudah malam dan rasanya badan kami pun sudah minta istirahat, kami putuskan untuk mendirikan kemah di dekat bebatuan besar. Makan malam seadanya, dan mencoba tidur bergelut dengan dinginnya cuaca karena angin yang berhembus super kencang, sehingga sempat membuat saya berpikir ada yang ‘iseng’ mainin tenda.Hehe
Tidak bisa tidur dan kebelet pipis merupakan kombinasi yang menyebalkan, untung saja ada temen yang berhasrat sama, berhubung tidak ada toilet diatas sana, maaf, semak-semak pun jadi. Haha

Bangun pagi, melewatkan sunrise karena baru bisa tidur subuh, sarapan pagi dan santai sejenak menikmati ‘sejuk’nya pagi sambil menyeruput teh manis. Slurrppp!
Pemandangan dari kemah lumayan indah, malu-malu dibalik awan terlihat dikejauhan pengunungan Sindoro-Sumbing dan Rawa Pening. Tak lupa bernarcis ria dan foto ‘keluarga’ tentunya. Hehe


Kami pun lantas membereskan kemah untuk menuju puncak Syarif. Sampai dipuncak pemandangan hanya putih, awan tebal dan kabut menutupi pemandangan. Sedikit kecewa sih, soalnya udah cape-cape naik.
Lanjut ke puncak Kenteng Songo, gerimis mengundang, dan medan yang menghadang sama sekali tak terbayangkan oleh saya. Kami harus melipir tebing, dengan pijakan yang pas-pasan dikaki, ditepi jurang sekitar 10-15 meter. Speechless!

Dengan motto,”there’s no turning back!” Saya yakinkan diri bahwa saya mampu melewatinya. It’s not gonna stop me! And we all made it! Amazing! Total 3 puncak yang berhasil kami pijak, puncak Syarif (3.120mdpl) dan puncak Kenteng Songo, dan puncak Merbabu (3.142mdpl). Wow!
Bukan hanya pendakian yang penuh perjuangan, turun gunung pun butuh perjuangan. Entah dimana tepatnya kami melaju dijalur yang salah, sepertinya padang rumput yang begitu luas menghapus jejak yang seharusnya kami ikuti, rencananya turun melalui jalur Selo tapi akhirnya kami mengelilingi bukit kurang lebih 8 jam lamanya dengan senter yang terbatas kami jalan berkelompok dan cadangan air yang menipis menambah kecemasan, saya dan 2 teman lainnya (Dwie Bayu dan Lisna) turun duluan sementara yang lain beristirahat, akhirnya jam 22.30wib, kami tiba di pemukiman penduduk, rombongan lain pun menyusul kemudian dan akhirnya menumpang di rumah salah satu penduduk yang baik hati menampung kami tanpa pamrih. Bersih-bersih sekenanya, saya langsung meringkuk dalam sleeping bag dan seketika terpulas, sementara yang lain masih sempat menikmati makan malam bersama. Pagi-pagi kami berpamitan dan ternyata kami masih berada di kaki bukit, karena untuk sampai ke jalan besar butuh jalan kaki sekitar satu jam lebih, dan perjalanan kami masih panjang.

Naik mobil bak yang dicharter kami duduk berhimpitan tapi sangat menikmati perjalanan dengan senda gurau ‘roller coaster’ dan tawa yang menghapus kelelahan diwajah kami, tadinya berniat ke pemandian air panas, padahal cuaca sangat panas (akhirnya batal karena kolamnya pun tak menggugah selera untuk nyemplung). Hanya numpang makan bakso deh, lumayan kesampean akhirnya (walaupun lebih tepat disebut cimol). Hehe

Merapi pun kandas. Yang ada 2M ( Merbabu-Muleh/pulang). Tapi perjalanannya merupakan pengalaman yang luar biasa berharga.
It’s worth to try !!

P.S : ketika baru turun gunung, saya dan satu teman baru saya (ika rangan) berkata akan pensiun dini naik gunung, tapi sepertinya kami berdua akan menarik perkataan kami sebelumnya. FYI, motivasi saya bertahan ketika tersesat menuruni bukit adalah semangkuk bakso yang menanti saya dibawah sana (meskipun saya tau kenyataannya ga ada). Sepele banget yah but It works.. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: